Rasa Cerita Blog

Sunday, March 25, 2018

Kelas Kreatif Fahd Fahdepie

March 25, 2018 0
Kelas Kreatif Fahd Fahdepie

Creativity is intelligence having fun.
Albert Einstein

To be honest with you, I love that quote. Pertama kali mendengar kalimat itu langsung ke-trigger untuk do something. Why? Saya suka membuat sesuatu. Melakukan kegiatan-kegiatan yang bagi orang-orang sekitar saya dilabeli sebagai ‘aktivitas yang kreatif’.   

Bagaimana menurut pendapat sahabat? Apa yang terpikirkan saat mendengar kata kreatif?

Kalau dulu, saat saya masih SD saya selalu mengaitkan kreatif hanya dengan dunia seni. Menari, bernyanyi, drama, teater, pertunjukkan dan rekan-rekannya. Namun, sekarang telah berbeda. Saya sudah memahami bahwa kreatif itu tidak sebatas urusan seni belaka, melainkan begitu luas. Sampai-sampai pekerjaan sederhana di rumah pun membutuhkan kehadiran kreativitas.

Kebutuhan akan ‘kreatif’ sekarang ini bisa dibilang sebagai pemain utama. Mau survive? Harus bisa kreatif. Pernah dalam satu Kajian Khidmat di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta dua tahun lalu, Ustaz yang memberikan materi berkata, “dakwah sekarang itu harus kreatif”. Nah, senadakan? Bahkan jalan dakwah saat ini pun membutuhkan kehadiran kreativitas dari para pendakwahnya.

Maka dari itu, saat tahu Bang Fahd Fahdepie membuka Kelas Kreatif tanpa pikir panjang saya langsung daftar. Well, sebenarnya saya mendaftar untuk dua kelas. Kelas Kreatif dan Kelas Menulis. Qadarullah, saya hanya lolos di Kelas Kreatif ini. Dengan tidak berkecil hati saya mempersiapkan diri untuk menerima materi-materi dari Bang Fahd itu sendiri dan narasumber lainnya.

Seperti apa Kelas Kreatif ini?

Kelas Kreatif ini membahas berbagai teman kreativitas, bisnis, komunikasi, dan lainnya. Per 24 Maret 2018 Kelas Kreatif sudah berjalan sebanyak empat kali pertemuan.  Pertemuan pertama membahas tentang Memulai dengan Ide. Pertemuan kedua membahas tentang Kaya dari Karya. Pertemuan ketiga membahas tentang Financial Literacy, silahkan baca catatan saya di sini. Pertemuan terbaru, yaitu yang keempat membahas tentang Peluang dan Tantangan Usaha di Tangerang Selatan, catatan kelasnya dapat dibaca di sini.


Sayangnya, saya baru dapat hadir pada pertemuan ketiga. Sehingga, tidak ada catatan untuk pertemuan pertama dan kedua. Namun, jangan berkecil hati. Sahabat dapat membaca postingan teman saya di sini dan di sini.  

Kelas kreatif akan diselenggarakan dua kali sebulan, di hari Kamis pekan ke-2 dan pekan ke-3. Waktunya ba'da maghrib. Tempatnya di Father & Son Barberspace, BSD, Tangerang Selatan. Kerennya lagi, kelas ini tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Sebagai info tambahan, kelas ini masih terbuka untuk sahabat yang mau bergabung dengan komitmen penuh. Kenapa dengan komitmen penuh, karena di kelas seperti ini kesungguhan adalah modal utama untuk dapat berhasil.

Sahabat bisa kepoin akun instagramnya Kelas Kreatif: @kelaskreatiff. Kapan pertemuan berikutnya, narasumbernya siapa, materinya tentang apa dan bagaimana cara ikut dapat dilihat dan ditanyakan melalui akun instagram tersebut.

Bagaimana sahabat, tertarik untuk ikut? Ditunggu kehadirannya di Kelas Kreatif berikutnya.

Salam, Karya Raya!

25 Maret 2018 / 8 Rajab 1439 H





Wednesday, March 14, 2018

Catatan Kelas Kreatif Ke-3: "Financial Literasi"

March 14, 2018 0
Catatan Kelas Kreatif Ke-3: "Financial Literasi"
PERDANA. Akhirnya, setelah melewati dua pertemuan karena urusan kerja saya berhasil ikut Kelas Kreatif Fahd Fadepie yang ketiga dengan tema Financial Literacy. Materi ini dibawakan oleh Bapak Gatot Soepriyanto, P.hd. Dosen Jurusan Akuntansi di Binus University.

Jadi, apa itu Financial Literacy dan kenapa penting untuk kita pelajari?

Karena Kita Harus Melek Keuangan!

Duh, berat euy! Saya yang pernah kuliah di jurusan akuntansi berasa langsung spaning. Hahaha... tapi tenang ini bukan belajar akuntansi dan teman-teman sejawatnya. Kenapa harus melek keuangan? Karena ini akan mempengaruhi kehidupan kita.

Dalam fase hidup, mulai dari anak-anak sampai tua nanti kita memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini jika tidak diolah dengan baik maka bukannya terpenuhi malah bisa menjadi malapetaka.

Pada sesi ini Pak Gatot mebahas tujuh hal:
  • Pentingnya Perencanaan Keuangan
  • Impian (Tujuan Keuangan) 
  • Cek Kesehatan Keuangan
  • Tips Pengendalian Keuangan
  • Bijak dalam Berhutang
  • Resiko Kehidupan
  • Mengenal Produk Keuangan

Pentingnya Perencanaan Keuangan   & Tujuan Keuangan

Merencanakan keuangan itu perlu. Ada tiga hal yang mempengaruhi perencanaan keuangan ini yaitu usia, inflasi dan kebutuhan di depan. Perencanaan ini akan sangat berpengaruh dengan impian kita. Apa sih yang ingin kita capai tahun ini? Dengan mengetahu apa saja yang ingin kita capai maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat perencanaan keuangannya. Pak Gatot memberikan tips mengenai tujuan keuangan ini.

Buatlah tabel seperti contoh dibawah ini, kemudian isi sesuai dengan impian-impian kita.

*Isi tabel pada gambar ini hanya contoh*
Pak Gatot bilang, mimpi-mimpi kita itu yang bikin kita masih eksis sampai sekarang. Yup, betul. Nah, apa mimpi-mimpi sahabat? Sudah pernah buat yang kayak tabel di atas?

Cek Kesehatan Keuangan Kita

Setelah kita menulis dan menganggarkan impian kita, langkah selanjutnya adalah dengan memeriksa kesehatan keuangan kita. Nggak cuma kesehatan fisik ternyata ya yang perlu di cek. Bagaimana cara ngeceknya?
  • Dengan melihat perbandingan pemasukan dan pengeluaran
  • Melihat Aset - Utang - Harta Bersih

Coba dihitung. Ini indikator kalau keuangan kita sehat:
  • Ada sisa (baik cara ke-1 maupun cara ke-2
  • Tagihan/utang tidak lebih dari 30% penghasilan
  • Ada simpanan rutin
Nah, giman-gimana? Sehatkah keuangan sahabat? Atau sudah mulai ketar-ketir nih?

Tips Pengendalian Keuangan

Tips dari Pak Gatot agar keuangan kita sehat dan impian-impian tadi tercapai sebagai berikut:
  • 10% digunakan untuk Dana Sosial (zakat, infak, besuk yang sakit, kondangan)
  • 20% digunakan untuk Tabungan/Investasi (termasuk proteksi resiko atau yang memilih menggunakan asuransi dananya dialokasiin di sini)
  • 30% untuk Utang
  • 40% untuk Pengeluaran Rutin
Balik lagi cek hitungan tadi, kalau ternyata Pengeluaran Rutin kita itu lebih dari 40% itu tandanya kita perlu efisiensi, sahabat. Kalau sudah mepet, nggak bisa dikurangin maka saatnya kita menambah penghasilan.

Usahakan kita punya Dana Darurat sebesar tiga kali dari penghasilan sebulan.

Ada pertanyaan dari Mba Ade, "bagaimana kalau bertekad tanpa utang?". Duh, keren ya. Semoga saya bisa kayak gini. Nah, dialokasi persenan di atas ada 30% untuk utang. Karena bertekad nggak mau utang, maka yang 30% untuk utang dialihkan ke mana? Jangan alihkan kepengeluaran rutin. Alihkan ke yang 10% atau 20% (Dana Sosial atau Tabungan/Investasi).  

Bijak dalam Berutang

Berutanglah sesuai kemampuan membayar kita. Usahakan untuk berutang produktif seperti tanah, KPR. Jangan berutang yang konsumtif seperti HP, TV, Mobil dan sejenisnya yang semakin menurun harga jualnya. Tapi, masih boleh kok berutang konsumtif asal diusahakan tidak lebih 10% dari alokai 30% dana utang kita.

Ada pertanyaan dari Mba Huda, "bagaimana menambah aset tanpa harus berutang?"
Jawabannya: Nabung di tempat yang aksesnya agak susah. Maksudnya, kalau yang mau nabung di bank carilah bank yang ATM-nya jarang-jarang.

Resiko Kehidupan

Di sesi ini Pak Gator membahas asuransi yang saya agak nggak ngerti dan agak kurang tertarik. Kesimpulan yang saya dapat, proteksi ini berbentuk proteksi jiwa, investasi, kesehatan, perumahan, dan lainnya. Gimana kalau nggak mau pakai asuransi? Masukkan ke dana darurat tadi. Kalau saya yang memang menghindari asuransi mengambil langkah untuk menambah alokasi dana darurat saya.

Mengenal Produk Keuangan

Pak Gatot memberikan contoh beberapa produk keuangan. Sayangnya saya skip bagian ini. Tiba-tiba teringat masa-masa menengangkan zaman kuliah akuntansi. Jadi, nggak saya bahas ya. Maaf...


Well, Pak Gatot bilang:
Setiap gajian, setelah dipotong pajak, langsung pisahkan alokasi dana tabungan sebagai reward dari kerja kita.

Ada beberapa pertanyaan dari peserta yang akan saya tulis pada postingan terpisah karena menurut saya penting untuk dibahas pada tulisan tersendiri. Silahkan cek melalui link dibawah ini:
  • Bagaimana sikap milenial menghadapi pengeluaran yang terus meningkat? (link menyusul karena tulisannya belum selesai)
  • Bagaimana meyakinkan orang lain untuk berinvestasi kepada kita? (link menyusul karena tulisannya belum selesai)

Bagaimana sahabat? Adakah yang sudah pernah mempelajari Financial Literacy sebelumnya? Atau baru pertama kali mendapatkan infonya dari sini? Sudah coba dicek kesehatan keuangannya?

Jabat Erat,
Aranta Prizzi
14 Maret 2018/26 Jumadil Akhir 1439 H

Thursday, March 8, 2018

Writer's Write

March 08, 2018 0
Writer's Write

Writer's write. Saya suka sekali dengan kata-kata tersebut. Tipsnya sederhana. Jadi, initinya kalau mau jadi penulis ya menulislah. Semakin sering menulis, semakin baik tulisannya.

Begitu pun dengan yang lainnya. Mau jadi penghafal Qur'an maka menghafallah. Mau jadi pemanah yang handal, maka berlatihlah. Mau bisa berkuda, ya harus sering-sering menunggangi kudanya. Tidak ada hal di dunia ini yang terjadi dengan instan. Semua butuh proses. Dalam proses itu kita mengetahui kesalahan, kekurangan dan kelebihan kita.

Jika dalam perjalanannya menenui kendala, seperti malas. Maka, lawanlah. Ada yang berkomentar buruk, mencemooh, tidak acuh dengan tulisan kita biarkan saja. Bisa jadi mereka bukan tipe pembacanya. Saya teringat kata seseorang, lupa orangnya siapa, setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Jadi, tidak ada tulisan yang sia-sia. Ingat terus kata bijak dalam buku tulis zaman sekolah, practice makes perfect.

Oh, iya. Jangan pikirkan tentang bakat. Jika ada orang yang memang dalam sekali menulis hasilnya bagus, maksudnya memang dia berbakat dalam hal itu biarkan saja. Setiap manusia itu ditakdirkan berbeda. Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa bakat tidak akan ada apa-apanya tanpa diasah. Sedangkan, apa pun yang dipelajari secara otodidak dapat berkembang pesat jika dilatih terus menerus.

Jadi, sudah menulis hari ini?

Wednesday, March 7, 2018

Lebih Dekat dengan KBBI

March 07, 2018 0
Lebih Dekat dengan KBBI

Pernah terpikir sebagai orang Indonesia tapi nggak banyak tahu tentang Bahasa Indonesia itu sendiri? Saya pernah dan sering. Hari ini contohnya. Saya sedang buka berkas kegiatan Mastercamp dan menemukan satu kata yang mencolok dalam susunan kegiatannya. Gelar Wicara.

Hmm… agak ragu, saya coba baca detailnya. Lalu, oh, ini yang talk show itu toh. Gelar wicara merupakan padanan kata yang panitia gunakan dari kata talk show.

Akhirnya, saya kembali teringat pernah punya rencana untuk lebih dekat dengan KBBI. Rencana keren menurut saya kala itu.

 Membaca satu hari satu halaman di KBBI!

Keren, kan? Padahal buka KBBI biasanya hanya saat ada tugas bahasa Indonesia. Itupun zaman sekolah. Nggak pernah benar-benar niat untuk buka kamus dan manja-manja di sana dengan barisan huruf dan kata.

Saya dengan sok tahunya bikin ide itu. Lupa dengan ketebalannya. Ternyata, saat saya buka KBBI oalah itu halamannya hampir dua ribu. Setahun saja cuma 365 hari, kalau tahun kabisat nambah, sih, tapi nambahnya cuma 1 hari. Jadi, bisa lima sampai enam tahun baru khatam itu satu kamus.

Saya pun menutuskan untuk menggugurkan niat tersebut. Sekarang pilihannya banyak-banyak baca saja. Biar tetap bertambah kosakata.

Pernah kepikiran ide seperti ini juga, nggak?

Tuesday, March 6, 2018

Sang Buya dari Minangkabau

March 06, 2018 0
Sang Buya dari Minangkabau

Belum pernah saya menemukan satu buku yang dapat dikatakan favorit sampai saya ‘dipinjamkan’ buku yang berjudul Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan. Iya, dipinjamkan dengan kalimat yang lebih tepat disuruh membacanya. 

Pada suatu sabtu, selepas belajar tahsin seorang sahabat menyodorkan buku tersebut kepada saya. “Baca! Ini buku bagus,” perintahnya. Saya menurut saja. Kebetulan sudah lama saya ingin membaca karya-karya beliau. 

Saya mengenal Buya Hamka dari literatur sekolah. Membaca sedikit karangannya yang menjadi bagian dari pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia. Barulah ini saya membaca karyanya yang utuh. Yang langsung membuat saya jatuh hati. Bagaimana bisa ada penulis yang seperti ini? Yang menulis bagai sedang bercakap-cakap langsung. Yang memilih setiap kata dengan tepat, kemudian dirangkai dengan begitu santun. 

Terlahir dari ibu keturunan Miang, sejak kecil saya terbiasa mendengar tetua-tetua berbicara. Setiap saat saya membaca buku-buku karangan Buya Hamka, tak luput dari ingatan bagaimana anduang saya kala bercerita. Sampai-sampai saya pernah bertanya kepada Ibu saya, “seperti inikah kebiasaan orang-orang minang dahulu bertutur?”, karena begitu miripya. Itu pula rasanya yang menyebabkan saya menyukai tulisan Buya Hamka ini. Bagai melepas rindu kepada almarhumah anduang tercinta. 

Saya tak mengenal Buya Hamka secara personal. Toh, memang beliau sudah meninggal bahkan sebelum ibu dan ayah saya bertemu. Dengan berlandas pada kalimat tak kenal maka taaruf saya mencari jejak-jejak sang buya baik di internet maupun melalui buku-buku yang merangkum biografi beliau. 

Barulah kemudian saya tahu bahwa Hamka bukanlah nama aslinya, melaikan akronim dari namanya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Sedangkan, gelar Buya merupakan panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Yang menarik dari Buya Hamka adalah beliau bersekolah di sekolah dasar Maninjau hanya sekitar tiga tahun. Pada usianya yang kesepuluh, Buya Hamka meneruskan belajarnya di Sumatera Thawalib, Padang Panjang, yang didirikan oleh ayahnya untuk belajar agama. Sayangnya, Buya Hamka menjadi cepat jenuh karena banyaknya menghafal di Thawalib itu. Pelajaran yang menarik bagi Hamka kecil hanyalah arudh yang membahas tentang syair dalam bahasa Arab. 

Pada masa remaja Buya Hamka mengaji kepada ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Setelahnya ia yang dikenal suka merantau, sehingga diberi gelar oleh ayahnya ‘Si Bujang Jauh’, menimba ilmu di Jawa. Singkat cerita, sepulangnya dari Jawa, Muhammadiyah membuka sekolah di Padang Panjang. Buya Hamka mencoba melamar sebagai guru, namun ia tidak lolos karena tidak memiliki diploma.

Tanpa bekal diploma, Buya Hamka tidak surut dalam menuntut ilmu. Beliau dikenal dengan keahlian otodidaknya dalam berbagai bidang. Semangatnya dalam belajar ini menginspirasi saya. Membuktikan bahwa bukan ijazah yang menjadikan seseorang itu sukses melainkan perjuangan dalam meraihnya. Sebagaimana kita ketahui Buya Hamka mendapat gelar Profeser kemudian. Sehingga, saya jadi menekankan pada diri sendiri jika ijazah yang ada di rumah ini harusnya mampu memberi lebih dari yang telah Buya Hamka raih.

Satu kutipan yang terus melekat setelah membaca Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan adalah,

“Perempuan sebagai empu jari menjadi penguat dan jari tidak dapat menggenggam erat dan memegang teguh kalau empu jarinya tidak ada. Dari empu itulah asal kata perempuan”.