Fixing The Family - Rasa Cerita Blog

Thursday, February 22, 2018

Fixing The Family


Kecemasan saya terhadap berita domestik akhir-akhir ini meningkat. Ada perasaan yang campur aduk. Sebagai seorang single saja saya begitu geram dan khawatir terhadap situasi yang akan dihadapi keturunan-keturunan saya kelak. Bagaimana dengan ayah dan bunda yang saat ini sedang berjuang mengasuh anak-anaknya. Semoga Allah melindungi kita semua.

Pemberitaan tentang LGBT semakin hari semakin marak. Makin menakutkan. Terus teringat oleh saya kisah-kisah kaum Lut. Tidak berhenti di LGBT, kasus incest dan pedofilia seolah menjadi santapan rutin portal berita. Ya Allah…..

Belum lagi tindakan tidak manusiawi lainnya seperti ibu yang menyeret anaknya dengan motor, murid yang membunuh gurunya, guru yang mencabuli siswanya bahkan yang terbaru wali murid menghantam guru dengan meja kaca sampai orang-orang yang berusaha terkenal dengan mempermainkan gerakan sholat. Astagfirullah aladzim….

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan-keburukan tersebut.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Mengesampingkan perihal akhir zaman, saya mencoba mencari akar masalah dari perilaku menyimpang tersebut.

Saya bukan psikolog maupun seorang ahli, sehingga pencarian saya tidak berdasar pada hal-hal berbau ilmiah. Saya cenderung mencari jawaban secara ruhaniah. Kembali kepada ilmu-ilmu Allah. Dan ternyata itu tidak sia-sia. Saya menemukan video ustaz Nouman Ali Khan yang menurut saya menjawab dengan gamblang pertanyaan saya.

Video yang dapat dilihat melalui link ini merupakan ceramah beliau di Qatar tahun 2013. Namun, masih sangat relevan dengan kehidupan kita di tahun 2018.

I’ve traveled not that much but I’ve traveled enough. I’ve seen enough of the ummah to be able to make some observations. The crisis of the ummah it’s not economics, it’s not politics, it’s not education, it’s not corruption. That is not the crisis of the ummah. The crisis of the ummah is that family unit is being destroyed,” ungkap ustaz Nouman Ali Khan dalam video tersebut.


Family Unit is Being Destroyed!


Yes. Setuju. Inilah akar permasalahannya. “People don’t know how to raise their kids anymore. People don’t know what it means to be parents anymore. Husbands don’t know what it means to be husband anymore. Wife doesn’t know what it means to be wife anymore. Children don’t know what it means to be children anymore. That is being destroyed by the modern context we live in,” beliau (ustaz Nouman Ali Khan) menjabarkan.

Saya menggaris bawahi dua hal penting dari penjabaran beliau, yaitu orang tua dan kehidupan modern.

Peranan orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku anak-anaknya dan saya pun meyakini itu. Dari awal anak terlahir ke dunia yang dilihat mereka adalah orang tuanya. Masa-masa awal hidupnya diisi dengan pendidikan orang tuanya. Saat kemudian anak sekolah dan terjun ke masyarakat itulah cerminan bagaimana sesungguhnya pengasuhan kedua orang tuanya di rumah.

Anak tidak serta merta menjadi buruk. Harfiahnya anak yang lahir ke bumi ini adalah baik. Pendidikan dini dari rumah yang diterimanyalah yang tidak mengakomodasi kebaikan-kebaikan.

Kehidupan modern pun menjadi salah satu penyebab perilaku-perilaku menyimpang tersebut. Perkembangan teknologi jelas memiliki kebaikan. Namun, pengaruh buruknya pun perlu diwaspadai. Oleh sebab itu orang tua perlu untuk tahu apa saja yang anak-anak lakukan dengan telepon genggamnya. Orang tua perlu mengawasi penggunaannya dan orang tua harus bisa bagaimana menggunakannya.

Seirama dengan apa yang dikatakan oleh ustaz Nouman, “Every father here should know and master the video games your children play. You should be better. If you’re letting your kids to play video games, first of all it’s a problem, but if you are letting them play and you’re not gonna let them stop then you better play with them. And you better be sitting there playing with them”.

Perhatikan kata-kata ustaz di atas, untuk video games saja ayahnya nggak cuma harus lebih baik dari anaknya melainkan MASTER! Jadi, kalau anak-anak diizinkan main Mobile Legends maka ayahnya harus master main Mobile Legends juga. Kalau anaknya diizinkan punya Channel Youtuber sendiri, maka orang tua harus tahu bagaimana prosesnya mulai dari mengupload, memoderasi komentar, monetisasi dan lainnya.

Bagaimana kita mengasuh anak-anak kita, itulah yang akan mempengaruhi perilakunya. Bukan guru-guru di sekolah, bukan teman-teman, tetangga atau pun sanak keluarga. Orang tuanya!


Then, what should we do?


Ustaz Nouman kemudian membahas tentang pengasuhan, “20 years ago, 30 years ago, 40 years ago parenting was different. Now it’s not the same. You can not afford to be authorities over your children. You have to be friends and authorities with your children.

Membandingkan bagaimana hormatnya anak-anak dulu kepada orang yang lebih tua, dengan yang sekarang berbeda. Contoh terdekat guru. Banyak berita memperlihatkan bagaimana adab-adab murid terhadap guru sudah tidak ada lagi. Begitupun sebaliknya.

We have to accept reality, our children are exposed to a lot of things. It doesn’t matter if you are in the muslim world or anywhere else,” lanjutnya. Yang dapat menolong anak-anak kita di kemudian hari adalah keislaman mereka. Ketaqwaan mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tugasnya kita yang dewasa adalah menumbuhkan kecintaan mereka kepada Islam. Kecintaan anak-anak kepada islam tidak akan tumbuh jika kita berkuasa atas mereka. Kita harus bisa menjadi teman yang berwibawa terhadap mereka.

Saat berada di rumah Ustaz Nouman memberikan saran, “don’t come home and watch TV, come home and play with your kids, do homework with your kids, take to your kids, take your kids to the masjid. Do that with them. Make your kids love you,” and he said, “If we don’t do this we will lose this ummah. We will lose our next generation…” (Hikss) Saya nggak berani ngebayangin lagi.

Lalu, beliau menjelaskan lagi siapapun Ustaz yang datang dan memberi ceramah hanya akan membantu sedikit. “The real change that will come in you child’s life will come from you (parents).”

 Masih ada harapan. Poin penting dari ceramah beliau ini adalah membangun keluarga yang baik, “Wallahi, if you a good husband your son will be a good husband. When you a good wife, your daughter will be a good wife. And when you’re not then you will create bad families now and the future. And you will be the fault. You will be the reason…

Masih single sis, jadi harus gimana? Maksimalkan peran saat ini. Lakukan dengan penuh amanah. Pelajari hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan, pengasuhan semoga kelak membawa kebaikan saat kita sudah menjadi seorang istri dan ibu.

Alhamdulillah, sudah lama semenjak nonton videonya mau dituangkan dalam kata-kata. Karena rasanya sesuai banget dengan kondisi dunia saat ini. Saran saya, ditonton deh sampai abis videonya. Terus, kita diskusi bareng di sini. Gimana?


PS: Sebenernya postingan ini mau diikutkan Kegiatan Postingan Tematik Blogger Muslimah. 
Sayangnya, sudah terlambat. Hehehe...

6 Jumadil Akhir 1439 H

Page 7 of 365

10 comments:

  1. wah, makasih buat ulasannya. jadi langsung masuk ke youtubenya nih buat nyimak juga hehe

    ReplyDelete
  2. wah keren…suka saya sama kata-kata yang diucapkan saya ustad. menohok sekali…

    ReplyDelete
  3. Terima kasih kembali sudah main-main ke sini Mba. Semoga dari videonya banyak yg bisa dipetik ya Mba. Beliau insyaallah akan hadir ke Indonesia tahun ini.

    ReplyDelete
  4. Iya Mba. Pas banget ya....

    ReplyDelete
  5. hohoho.. video yang bermanfaat. terimakasih rekomendasinya ya 🙂

    ReplyDelete
  6. sedih pas baca the family ummah is being destroyed. Maka benar ya semua nya bermula dari pondasi keluarga yg kokoh. Kokoh dr segi agama terutama 🙂

    ReplyDelete
  7. Sama-sama Mba. Semoga bermanfaat videonya. Terima kasih sudah berkunjung.

    ReplyDelete
  8. Benar Mba. Kenyataannya memang begitu ya. Sedihnya kekokohan dari segi agama ini yang makin surut 😢

    ReplyDelete
  9. intinya keteladanan dari orangtua ya mbak..syukron atas ulasan dan link video ceramahnya mbak..

    ReplyDelete
  10. Intinya perbaiki diri sendiri insyaallah anak keturunan akan baik juga ya mba. Duh ngerasa tersindiri hiiks semoga belum terlambat untuk memperbaiki diri ini

    ReplyDelete