Rasa Cerita Blog: Tausiyah Diri
Showing posts with label Tausiyah Diri. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah Diri. Show all posts

Thursday, March 8, 2018

Writer's Write

March 08, 2018 0
Writer's Write

Writer's write. Saya suka sekali dengan kata-kata tersebut. Tipsnya sederhana. Jadi, initinya kalau mau jadi penulis ya menulislah. Semakin sering menulis, semakin baik tulisannya.

Begitu pun dengan yang lainnya. Mau jadi penghafal Qur'an maka menghafallah. Mau jadi pemanah yang handal, maka berlatihlah. Mau bisa berkuda, ya harus sering-sering menunggangi kudanya. Tidak ada hal di dunia ini yang terjadi dengan instan. Semua butuh proses. Dalam proses itu kita mengetahui kesalahan, kekurangan dan kelebihan kita.

Jika dalam perjalanannya menenui kendala, seperti malas. Maka, lawanlah. Ada yang berkomentar buruk, mencemooh, tidak acuh dengan tulisan kita biarkan saja. Bisa jadi mereka bukan tipe pembacanya. Saya teringat kata seseorang, lupa orangnya siapa, setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Jadi, tidak ada tulisan yang sia-sia. Ingat terus kata bijak dalam buku tulis zaman sekolah, practice makes perfect.

Oh, iya. Jangan pikirkan tentang bakat. Jika ada orang yang memang dalam sekali menulis hasilnya bagus, maksudnya memang dia berbakat dalam hal itu biarkan saja. Setiap manusia itu ditakdirkan berbeda. Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa bakat tidak akan ada apa-apanya tanpa diasah. Sedangkan, apa pun yang dipelajari secara otodidak dapat berkembang pesat jika dilatih terus menerus.

Jadi, sudah menulis hari ini?

Monday, March 5, 2018

Dear Past, Dear Future

March 05, 2018 0
Dear Past, Dear Future



إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S. Ar Ra’d: 11)
            
Dear Past,

Terima kasih atas segalanya. Atas kejadian-kejadian yang menjadikan saya pribadi yang sekarang ini. Pengalaman-pengalaman yang menguatkan dan melembutkan. Memori penuh cinta yang tak akan terlupa. 

Diawali dengan kenyataan yang sulit dicerna oleh pikiran sadar manusia. Namun, dengan ilmu yang terus diasah, dengan hati yang terus dilatih bahwa segala yang terjadi merupakan takdir Ilahi, tahun ini menjadi titik balik di mana sebagai hambaNya, tak lain tak bukan hanya kepada Allah-lah segala sesuatu itu dikembalikan.

Kembali kepada ketauhiidan ini berujung pada satu pelajaran berharga tentang teori yang kasat mata. Mudah dieja sulit dikerja. Ikhlas. Tahun ini mengajarkan saya bahwa keikhlasan adalah kunci utama dalam menyikapi takdir yang telah Allah tetapkan. Bahwa ikhlas akan membuka pintu-pintu kesulitan menuju kemudahan. Dengan ikhlas, maka hanya husnuzon kepada Allah yang dikedepankan. Hati menjadi tenang. Sakinah.


Dear future,

Hijrah ini belum berakhir. Masih harus terus diperjuangkan. Dipertahankan hingga tak lagi goyah. Hingga tak sempat lagi futur menghampiri. Semoga setiap pengalaman dan pelajaran yang akan mengisi lembar-lembar tahun ini menguatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bismillah.

I'm ready. And let's make the magic happen.

(Tulisan lama yang diangkat kembali, karena (lagi-lagi) saya membutuhkannya)

Page 8 of 354 
5 Maret 2018

Monday, February 19, 2018

Berjuang Online

February 19, 2018 0
Berjuang Online

Setelah terakhir mencoba bergabung dengan Komunitas One Day One Post (ODOP) yang mana gagal. Saya sempat hibernasi dan menarik diri dari beragam kegiatan online lainnya. Kemudian, awal tahun saya merasa sudah siap dan sudah mampu mengatur cukup waktu untuk bergabung kembali bersama hiruk pikuk komunitas online khususnya kepenulisan. Sayang, ternyata tingkat keseringan saya bertemu dengan laptop tidak berbanding lurus dengan aktivitas saya di komunitas kepenulisan online. Pada akhirnya, saya kembali merasa gagal.

Ternyata untuk bertahan saat mengikuti komunitas online itu butuh perjuangan. Salut saya untuk mereka yang berhasil. Apalagi seperti ibu rumah tangga yang aktif sekali di blognya dan dapat juga mengurus rumah tangganya. Dua jempol untuk mereka.

Berjuang online di komunitas kepenulisan bagi saya itu sulit sekali. Karena komitmen yang dibangun berbeda dengan aktivitas di dunia nyata. Dan berbeda dengan menulis diari. Saya setiap hari terus menuli di buku khusus yang tidak boleh dilihat oleh siapa pun. Rahasia pokoknya. Berbeda dengan tulisan yang harus saya kirim dan sebar kebanyak orang because my digital footprint will be there forever. Dosa pun pahalan yang mengalir karena tulisan saya akan terus ada walaupun jasad ini telah tiada.

Saya salut dengan mereka, seperti ibu rumah tangga yang mampu mengurus blognya dengan apik sampai ada yang mau beriklan di blognya atau meminta untuk dibuatkan copy writing/soft selling dan semacamnya. Mereka keren. Mampu membagi waktu secara baik antara aktivitas online dan offlinenya.

Well, manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Dan prioritas yang berbeda pula. Dengan semangat yang juga berbeda. Sehingga, saya tidak bisa menyamakan diri saya dengan mereka. Pun sebaliknya. Sayangnya, terkadang ada diantara kita yang merasa karena bisa maka yang lain juga pasti bisa.

Saya perlu berjuang ekstra keras dengan hal-hal online. Namun, ada orang-orang yang dengan mudah dapat melakukannya. We all have different struggles in life, don't compare yours with mine.

2 Jumadil Akhir 1439 H

Page 5 of 365

Sunday, February 11, 2018

Menata Langkah

February 11, 2018 0
Menata Langkah

Banyak impian yang ingin dicapai. Deretan resolusi telah membubuhi agenda tahunan. Lalu, apa yang kemudian terjadi? Evaluasi.

Satu bulan lebih berlalu dari tahun 2018. Pekan ini saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Merampungkan beberapa amanah yang sudah mendekati tenggat waktunya dan menangguhkan beberapa untuk dapat disesuaikan. Kemudian, menelaah apa-apa yang telah saya lakukan. Apakah semakin mendekatkan diri pada tujuan? Atau malah saya sudah sangat jauh sehingga perlu ditarik kembali agar tidak salah arah.

Awalnya saya ragu untuk melakukannya. Mengingat akan ada yang dikorbankan dari aktivitas ‘berhenti sejenak’ ini. Alhamdulillah, memang terkadang kita perlu untuk sekedar berhenti. Melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang sedang terjadi dan mereka-reka apa yang akan terjadi kemudian. Untuk sekedar tahu posisi kita sudah sampai mana.

Hal tersulit dari memberi ruang pada diri untuk dapat memperbaiki diri adalah pengakuan. Pengakuan atas segala kesalahan, kekurangan, pencapaian-pencapaian yang jauh dari harapan. Namun, itulah inti dari berhenti sejenak ini. Agar kemudian dapat menata langkah menjadi lebih baik lagi.

Bersyukur sekali saya dapat menghadiri Blogger Muslimah Meet Up kemarin. Dengan narasumber Teteh Khadija atau lebih dikenal dengan Peggy Melati Sukma, saya kembali diingatkan dengan makna hijrah. Bahwasanya diri inilah hijrah itu sendiri. Bahwa hijrah tidak hanya sebatas satu momen perpindahan. Melainkan perjalanan sepanjang hayat untuk mencapai ridhoNya. (Insyaallah saya akan membuat reportasenya dan satu tulisan khusus mengenai apa yang dibicarakan narasumber).

Hibernasi singkat ini memberikan saya kekuatan untuk meneruskan langkah. Salah itu wajar. Manusia. Namun, itu bukan alasan untuk tidak berkembang dan berhenti berjuang.

Bismillah....

Note: Terkadang dalam menghadapi suatu situasi dalam hidup hanya seperti ini langkah saya mengutarakannya. Berdamai dan mengobati dengan merangkai aksara yang semoga dapat berarti dikemudian hari. Siapa pun yang membaca ini mungkin tidak dapat memahaminya. Karena terkadang, saat luka saya tidak mampu merangkai kata dengan sempurna. Namun, menuliskannya seperti ini adalah jalan untuk menyembuhkannya.


25 Jumadil Awwal 1439 H

Page 4 of 365

Thursday, February 1, 2018

Kecewa

February 01, 2018 0
Kecewa

Ada seorang teman telah meletakkan rasa kecewa dalam diri ini. Beberapa waktu lalu, saat pertama bertemu baik yang tampak darinya. Sebuah acara menunjukkan kemampuannya. Hebat dia, opini itu terbentuk. Saya menilainya dengan sangat bagus. Ada keinginan untuk kembali bekerja sama dengannya. Sayang, kata-kata dan prasangkanya kemarin melibas habis kekaguman yang ada.

Menolak percaya dengan apa yang saya baca, akan tetapi fakta mengungkap yang sejujurnya. Pertama saya berucap, ya sudahlah. Namun, saat berjalan-jalan pada akun lain yang merupakan temannya pula malah semakin kuat kecewa itu. Temannya itu memposting isi percakapan mereka mengenai satu hal yang membuat saya kecewa.

Dia telah sempurna menutup auratnya. Kekaguman ini tiada hentinya terucap. Seketika saja luluh lantak. Jadi teringat akan nasihat yang kerap diperdengarkan telinga ini untuk tidak terlalu berlebihan dalam menilai seseorang, kagum terhadap orang lain pun dalam urusan mencintai manusia.

Kejadian tersebut mengingatkan saya akan kata-kaka Gurunda Aa Gym, “Teko hanya mengeluarkan isi teko, kata-kata mencerminkan isi hati, hati yang tidak baik akan mengatakan yang tidak baik begitu pula sebaliknya.” Semoga Allah terus melindungi hati ini sehingga isi yang keluar hanyalah kebaikan.

Tapi, kemudian saya diingatkan lagi bahwa setiap kejadian yang menimpa diri haruslah direspon secara postif. Duh, sulitnyaaa…. Dalam kasus ini. Totally, the words they pick was way from ihsan. Benar-benar tidak mencerminkan kebaikan. Bahkan, jelas-jelas ada tuduhan di sana. Dan di sanalah letak kecewanya saya.

Kejadian ini jadi pelajaran berharga buat saya. Teringat akan pesan Aa Gym mengenai bahaya lisan, “ucapan yang terlontar dari lisan bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya, tidak akan bisa ditarik lagi. Jika sudah terucap pada sasaran, maka bekasnya akan tetap ada. Sekalipun bekas itu ditambal sedemikian rupa, tetap iya tidak utuh lagi seperti sediakala.”

Kecewa itu masih ada. Saya mencoba untuk menyembuhkannya. Mengembalikan rasa ini pada yang kuasa karena tentu tidak ada satu kejadian pun tanpa seizinNya.

13 Jumadil Awwal 1439 H

Page 3 of 365

Monday, January 29, 2018

Amanah

January 29, 2018 0
Amanah

Insan hasanah berjiwa amanah….
Dua pekan lalu, selama tujuh hari penuh hari-hari saya diiringi dengan kalimat tersebut yang dilantunkan dalam bentuk yel-yel oleh Peserta Samapta dan Bela Negara Officer Development Program BNI Syariah Batch 6. Kalimat tersebut hanya penggalan pertama dari keseluruhan yel-yelnya. Sesuai dengan tujuan yel-yel pada umumnya, yaitu untuk penyemangat, kalimat itu berhasil menyemangati saya hingga meresap ke dalam dada ini. Menjadikan sang empunya merenung. Hingga timbul pertanyaan untuk diri sendiri, “sudahkah saya amanah?”

Seketika saya dihinggapi rasa takut. Takut dengan apa yang akan terjadi pada masa perhitungan kelak. Tidak mampu membayangkan apa jadinya jika diri ini tidak amanah. Jika yang dilakukan nyatanya adalah khianat dan semakin jauh dari amanah. Naudzubillah….. Astagfirullahaladzim…. Astagfirullahaladzim…. Astagfirullahaladzim…. Ya Allah… hindarilah hamba dari api neraka baik sementara maupun selamanya.

Amanah dalam KBBI Online salah satunya diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan (diititipkan) kepada orang lain. Dalam salah satu ceramah yang pernah saya ikuti amanah ini bisa berupa benda konkrit dan benda abstrak. Benda konkrit seperti barang dan uang. Benda abstrak seperti jabatan. Termasuk cerita rahasia seseorang kepada kita itu adalah amanah.

Kekhawatiran saya terhadap lalai dalam amanah ini membawa pada ilmu-ilmu baru. Bahwa betapa pentingnya amanah itu sampai Allah langsung memperingatinya dengan tegas dalam Al Qur’an.

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا أَمٰنٰتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Surat Al Anfal: 27)

Tidak salah ketakutan itu hadir. Nyatanya menjaga amanah adalah bagian dari kewajiban iman. Betapa pentingnya perkara amanah ini sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidaklah sempurna iman seseorang yang tidak menjaga amanah .”

(HR. Ahmad 3/135, Ibnu Hibban 194. Dishahihkan oleh syaikh Al Albani dalam shahiihul jaami ’)

Semoga kita dapat menjadi insan-insan penuh amanah. Aamin…

12 Jumadil Awwal 1439H

Page 2 of 365

Assalamu'alaikum, Hello World!

January 29, 2018 0
Assalamu'alaikum, Hello World!

Assalamu’alaikum…
Sering dengar kalimat ini, tak kenal maka ta’aruf? Pastinya sudahlah, ya. Berdasar dari kalimat itulah posting-an ini dibuat. Agar sampai kepada pembaca seperti apa isinya. Maka dari itu, saya ucapkan selamat datang di rumah kata yang begitu sederhana. Tempat saya menuangkan rasa dalam cerita. Wadah untuk mengikat ilmu. Seperti yang telah tertulis dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026, di mana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya”

Blog ini personal. Berisi segala hal yang berkaitan baik dengan kenyataan yang saya alami atau kisah-kisah fiksi yang terlintas begitu saja di benak ini. Tentang apa yang saya pikirkan, yang saya inginkan, yang saya alami dan yang saya ciptakan.

Setiap tulisan yang saya buat di sini akan dimasukkan dalam beberapa kategori. Saya tidak membuatnya seperti kebanyakan blog. Saya senang melabelkan sesuatu dengan hal yang berbeda. Contoh, saya tidak menulis folder yang berisi foto-foto dengan Pictures, Gallery, Photo atau sejenisnya. Saya malah menuliskan kalimat ini, you don’t save what you don’t love. 😊

Segala hal yang campur sari. Tidak dapat dimasukkan pada kategori khusus akan saya letakkan dalam Kategori Serambi. Segala hal yang berhubungan dengan perbaikan, pengembangan, produktivitas diri akan masuk dalam Kategori Tumbuh. Yang bersifat reminder maupun hikmah dari suatu kejadian akan berada dalam Kategori Tausiyah Diri. Dan akan ada kategori-kategori lainnya seiring bertambah tulisan pada blog ini.

Satu harapan saya agar rumah maya ini dapat menjadi saksi jejak saya di bumi. Moga-moga ada sedikit kebaikan yang dapat dipetik dan manfaat yang bisa ditebar. Sehingga ada amal pemberat timbangan yang dapat terus mengalir sebagai tabungan masa peradilan kelak.

Wasalamu’alaikum….

11 Jumadil Awwal 1439 H
Page 1 of 365