Rasa Cerita Blog

Monday, March 5, 2018

Dear Past, Dear Future

March 05, 2018 0
Dear Past, Dear Future



إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S. Ar Ra’d: 11)
            
Dear Past,

Terima kasih atas segalanya. Atas kejadian-kejadian yang menjadikan saya pribadi yang sekarang ini. Pengalaman-pengalaman yang menguatkan dan melembutkan. Memori penuh cinta yang tak akan terlupa. 

Diawali dengan kenyataan yang sulit dicerna oleh pikiran sadar manusia. Namun, dengan ilmu yang terus diasah, dengan hati yang terus dilatih bahwa segala yang terjadi merupakan takdir Ilahi, tahun ini menjadi titik balik di mana sebagai hambaNya, tak lain tak bukan hanya kepada Allah-lah segala sesuatu itu dikembalikan.

Kembali kepada ketauhiidan ini berujung pada satu pelajaran berharga tentang teori yang kasat mata. Mudah dieja sulit dikerja. Ikhlas. Tahun ini mengajarkan saya bahwa keikhlasan adalah kunci utama dalam menyikapi takdir yang telah Allah tetapkan. Bahwa ikhlas akan membuka pintu-pintu kesulitan menuju kemudahan. Dengan ikhlas, maka hanya husnuzon kepada Allah yang dikedepankan. Hati menjadi tenang. Sakinah.


Dear future,

Hijrah ini belum berakhir. Masih harus terus diperjuangkan. Dipertahankan hingga tak lagi goyah. Hingga tak sempat lagi futur menghampiri. Semoga setiap pengalaman dan pelajaran yang akan mengisi lembar-lembar tahun ini menguatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bismillah.

I'm ready. And let's make the magic happen.

(Tulisan lama yang diangkat kembali, karena (lagi-lagi) saya membutuhkannya)

Page 8 of 354 
5 Maret 2018

Thursday, February 22, 2018

Fixing The Family

February 22, 2018 10
Fixing The Family

Kecemasan saya terhadap berita domestik akhir-akhir ini meningkat. Ada perasaan yang campur aduk. Sebagai seorang single saja saya begitu geram dan khawatir terhadap situasi yang akan dihadapi keturunan-keturunan saya kelak. Bagaimana dengan ayah dan bunda yang saat ini sedang berjuang mengasuh anak-anaknya. Semoga Allah melindungi kita semua.

Pemberitaan tentang LGBT semakin hari semakin marak. Makin menakutkan. Terus teringat oleh saya kisah-kisah kaum Lut. Tidak berhenti di LGBT, kasus incest dan pedofilia seolah menjadi santapan rutin portal berita. Ya Allah…..

Belum lagi tindakan tidak manusiawi lainnya seperti ibu yang menyeret anaknya dengan motor, murid yang membunuh gurunya, guru yang mencabuli siswanya bahkan yang terbaru wali murid menghantam guru dengan meja kaca sampai orang-orang yang berusaha terkenal dengan mempermainkan gerakan sholat. Astagfirullah aladzim….

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan-keburukan tersebut.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Mengesampingkan perihal akhir zaman, saya mencoba mencari akar masalah dari perilaku menyimpang tersebut.

Saya bukan psikolog maupun seorang ahli, sehingga pencarian saya tidak berdasar pada hal-hal berbau ilmiah. Saya cenderung mencari jawaban secara ruhaniah. Kembali kepada ilmu-ilmu Allah. Dan ternyata itu tidak sia-sia. Saya menemukan video ustaz Nouman Ali Khan yang menurut saya menjawab dengan gamblang pertanyaan saya.

Video yang dapat dilihat melalui link ini merupakan ceramah beliau di Qatar tahun 2013. Namun, masih sangat relevan dengan kehidupan kita di tahun 2018.

I’ve traveled not that much but I’ve traveled enough. I’ve seen enough of the ummah to be able to make some observations. The crisis of the ummah it’s not economics, it’s not politics, it’s not education, it’s not corruption. That is not the crisis of the ummah. The crisis of the ummah is that family unit is being destroyed,” ungkap ustaz Nouman Ali Khan dalam video tersebut.


Family Unit is Being Destroyed!


Yes. Setuju. Inilah akar permasalahannya. “People don’t know how to raise their kids anymore. People don’t know what it means to be parents anymore. Husbands don’t know what it means to be husband anymore. Wife doesn’t know what it means to be wife anymore. Children don’t know what it means to be children anymore. That is being destroyed by the modern context we live in,” beliau (ustaz Nouman Ali Khan) menjabarkan.

Saya menggaris bawahi dua hal penting dari penjabaran beliau, yaitu orang tua dan kehidupan modern.

Peranan orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku anak-anaknya dan saya pun meyakini itu. Dari awal anak terlahir ke dunia yang dilihat mereka adalah orang tuanya. Masa-masa awal hidupnya diisi dengan pendidikan orang tuanya. Saat kemudian anak sekolah dan terjun ke masyarakat itulah cerminan bagaimana sesungguhnya pengasuhan kedua orang tuanya di rumah.

Anak tidak serta merta menjadi buruk. Harfiahnya anak yang lahir ke bumi ini adalah baik. Pendidikan dini dari rumah yang diterimanyalah yang tidak mengakomodasi kebaikan-kebaikan.

Kehidupan modern pun menjadi salah satu penyebab perilaku-perilaku menyimpang tersebut. Perkembangan teknologi jelas memiliki kebaikan. Namun, pengaruh buruknya pun perlu diwaspadai. Oleh sebab itu orang tua perlu untuk tahu apa saja yang anak-anak lakukan dengan telepon genggamnya. Orang tua perlu mengawasi penggunaannya dan orang tua harus bisa bagaimana menggunakannya.

Seirama dengan apa yang dikatakan oleh ustaz Nouman, “Every father here should know and master the video games your children play. You should be better. If you’re letting your kids to play video games, first of all it’s a problem, but if you are letting them play and you’re not gonna let them stop then you better play with them. And you better be sitting there playing with them”.

Perhatikan kata-kata ustaz di atas, untuk video games saja ayahnya nggak cuma harus lebih baik dari anaknya melainkan MASTER! Jadi, kalau anak-anak diizinkan main Mobile Legends maka ayahnya harus master main Mobile Legends juga. Kalau anaknya diizinkan punya Channel Youtuber sendiri, maka orang tua harus tahu bagaimana prosesnya mulai dari mengupload, memoderasi komentar, monetisasi dan lainnya.

Bagaimana kita mengasuh anak-anak kita, itulah yang akan mempengaruhi perilakunya. Bukan guru-guru di sekolah, bukan teman-teman, tetangga atau pun sanak keluarga. Orang tuanya!


Then, what should we do?


Ustaz Nouman kemudian membahas tentang pengasuhan, “20 years ago, 30 years ago, 40 years ago parenting was different. Now it’s not the same. You can not afford to be authorities over your children. You have to be friends and authorities with your children.

Membandingkan bagaimana hormatnya anak-anak dulu kepada orang yang lebih tua, dengan yang sekarang berbeda. Contoh terdekat guru. Banyak berita memperlihatkan bagaimana adab-adab murid terhadap guru sudah tidak ada lagi. Begitupun sebaliknya.

We have to accept reality, our children are exposed to a lot of things. It doesn’t matter if you are in the muslim world or anywhere else,” lanjutnya. Yang dapat menolong anak-anak kita di kemudian hari adalah keislaman mereka. Ketaqwaan mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tugasnya kita yang dewasa adalah menumbuhkan kecintaan mereka kepada Islam. Kecintaan anak-anak kepada islam tidak akan tumbuh jika kita berkuasa atas mereka. Kita harus bisa menjadi teman yang berwibawa terhadap mereka.

Saat berada di rumah Ustaz Nouman memberikan saran, “don’t come home and watch TV, come home and play with your kids, do homework with your kids, take to your kids, take your kids to the masjid. Do that with them. Make your kids love you,” and he said, “If we don’t do this we will lose this ummah. We will lose our next generation…” (Hikss) Saya nggak berani ngebayangin lagi.

Lalu, beliau menjelaskan lagi siapapun Ustaz yang datang dan memberi ceramah hanya akan membantu sedikit. “The real change that will come in you child’s life will come from you (parents).”

 Masih ada harapan. Poin penting dari ceramah beliau ini adalah membangun keluarga yang baik, “Wallahi, if you a good husband your son will be a good husband. When you a good wife, your daughter will be a good wife. And when you’re not then you will create bad families now and the future. And you will be the fault. You will be the reason…

Masih single sis, jadi harus gimana? Maksimalkan peran saat ini. Lakukan dengan penuh amanah. Pelajari hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan, pengasuhan semoga kelak membawa kebaikan saat kita sudah menjadi seorang istri dan ibu.

Alhamdulillah, sudah lama semenjak nonton videonya mau dituangkan dalam kata-kata. Karena rasanya sesuai banget dengan kondisi dunia saat ini. Saran saya, ditonton deh sampai abis videonya. Terus, kita diskusi bareng di sini. Gimana?


PS: Sebenernya postingan ini mau diikutkan Kegiatan Postingan Tematik Blogger Muslimah. 
Sayangnya, sudah terlambat. Hehehe...

6 Jumadil Akhir 1439 H

Page 7 of 365

Blogger Muslimah Meet Up with Teteh Khadija

February 22, 2018 0
Blogger Muslimah Meet Up with Teteh Khadija

Perdana di tahun 2018 Blogger Muslimah kembali menggelar Meet Up, kegiatan yang berbentuk sharing session dengan muslimah yang banyak menginspirasi dan berbagi. Meet Up kali ini mengundang narasumber seorang Inspirator Hijrah dan Aktivis Kemanusiaan, Peggy Melati Sukma dan saya alhamdulillah diberi kesempatan untuk ikut serta.

Acara yang bertajuk Blogger Muslimah Meet Up with Teteh Khadija (nama hijrah Peggy Melati Sukma) ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Februari 2018. Bertempat di kantor Proxsis Consulting Group atau dikenal sebagai Proxsis Co-Working Kuningan, sebuah perusahaan konsultan manajemen terpercaya dan berpengalaman dalam membantu perusahaan nasional dan multinasional dalam mengembangkan perusahaan mereka melalui berbagai training.

Sebelum lanjut ke inti acara, sedikit mau mengulas tempat kegiatan ini. Berlokasi di lantai 17, pandangan mata saya terpaku pada rak buku gantung, mesin kopi dan keranjang tempat meletakkan gelas. Saat yang lain sibuk foto dengan latar bertuliskan Indonesia Indonesia Corporate Academy Member of Proxis saya sibuk dengan mereka (baca: rak buku gantung, mesin kopi dan keranjang tempat gelas). Semacam, can't take my eyes of it! Seru, ya, kerja di tempat yang ada spot instagramablenya kayak gini (lihat foto dokumentasi di bawah).

 
Inside Kantor Proxis

Nah, sekarang lanjut mengulas rangkain acaranya. Setibanya di lokasi, saya diminta untuk mengisi daftar hadir dan mendapatkan goodybag yang berisi hijab bolak balik berwarna hitam dan abu dari Hijab Alsa. 


Hijab Alsa ini merupakan brand hijab yang syar'i asli dari Indonesia ýang memiliki model desain yang simple, kekinian dan elegan. Pas banget untuk menemani aktivitas harian kita para muslimah. Selain hijab tadi, goodybag ungu yang saya dapat juga berisi air mineral dan snack yang disediakan oleh Proxis.

Acara yang dijadwalkan mulai pukul 09.00 baru resmi dibuka oleh MC 09.30. Kemudian, disusul dengan perkenalan sesama peserta. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Uni Novia Syahidah Rais, Founder dari Blogger Muslimah.  Beliau menjelaskan pada tahun 2018 ini Blogger Muslimah memiliki enam program:

  1. Blogger Muslimah Meet Up yang menampilkan sosok muslimah yang menginspirasi. Tujuannya agar dapat menambah wawasan dan motivasi.

  2. Edu Visit Muslimah.

  3. Kepribadian Muslimah yang dilaksanakan secara online di grup Blogger Muslimah

  4. Postingan Tematik (PosTem)

  5. Program Kepenulisan

  6. Muslimah Trip

Sambutan berikutnya oleh Ibu Veny Ferawati Nirmala Sari, Direktur Proxis IT Learning Center. Beliau menjelaskan di mana Proxis khususnya bidang IT Learning Center menyediakan tempat untuk berkumpul komunitas gratis yang dapat digunakan pada hari Sabtu dan Ahad.

Teteh Khadija


Akhirnya yang ditunggu tiba... Dengan gamis kotak-kota biru dipadu khimar coklat muda dan ditutup sempurna dengan cadar cokelat tuanya Teteh Khadija bercerita mengenai perjalanan hijrahnya. Muslimah yang hampir dua puluh tahun dikenal sebagai selebriti multitalenta di dunia hiburan Indonesia, pebisnis wanita, dan sudah aktif pada gerakan sosial baik dalam negeri dan internasional ini menjelaskan bahwa hijrah itu perjalanan, bukan pencapaian. Sehingga, hijrah itu tidak menunggu kapan dilakukan. Melainkan, diri kita hijrah itu sendiri. Sejak dari dalam kandungan sampai ke yaumul akhir kelak. Pembahasan lengkap sharing dari Teteh Khadija ada di tulisan terpisah.

[caption id="" align="aligncenter" width="567"] 
Teteh Khadija

Selesai sharing session, langsung foto bersama. Bertepatan dengan waktu dzuhur maka kegiatan dilanjut dengan Sholat Dzuhur dan menyantap makanan yang dibawa oleh peserta, potluck, begitu bahasa kerennya.



Tak lupa saya pun ikut mencicipi kue lemut dari Ahmah CakeAhmah Cake ini adalah International Brand yang kini hadir di Indonesia. Dibuat dengan bahan-bahan lokal sehingga aman dan halal untuk dikonsumsi.  Saat ini belum tertera label halal pada boxnya, namun pihak Ahmah Cake menyatakan bahan-bahan yang digunakan halal dan sedang mengurus perizinan halal di MUI.

Sebagai penutup, dibagikan doorprize dari brand Shalira Syar'i kepada peserta beruntung.


Instagram Competition


Baru pertama kali dalam sejarah hidup saya ikutan Instagram Competition saat menghadiri acara. Jadi, sponsor kegiatan Meet Up kali ini menyiapkan hadiah bagipeserta yang beruntung dengan cara upload foto sesuai ketentuan selama acara berlangsung. Tentunya saya nggak menang karena nggak ngerti harus gimana. But, I still did it. Walaupun yakin banget nggak sesuai sama guidelinenya. Kontes macam ini seru, sih. Tapi, untuk orang tipe saya rada kewalahan dan akhirnya esensi acaranya agak buyar.

Well, Meet Up ini asik, menyenagkan dan penuh motivasi.  Semoga Meet Up kedepannya bisa lebih terasa 'muslimahnya' seperti dilantunkannya ayat suci Al Qur'an dan penutup acara dengan doa kafaratul majelis. This is kind of Majelis Ilmu jugakan.

Sekian reportase yang dibuat berhari-hari melebihi deadline. Semoga dapat menebar sedikit manfaat bagi yang membacanya. Aamiin... Berbagi cerita, yuk, mengenai pengalamannya hadir di acara Blogger Muslimah Meet Up di kolom komentar.

Salam, rasacertia.

6 Jumadil Akhir 1439 H

Page 6 of 365

Monday, February 19, 2018

Berjuang Online

February 19, 2018 0
Berjuang Online

Setelah terakhir mencoba bergabung dengan Komunitas One Day One Post (ODOP) yang mana gagal. Saya sempat hibernasi dan menarik diri dari beragam kegiatan online lainnya. Kemudian, awal tahun saya merasa sudah siap dan sudah mampu mengatur cukup waktu untuk bergabung kembali bersama hiruk pikuk komunitas online khususnya kepenulisan. Sayang, ternyata tingkat keseringan saya bertemu dengan laptop tidak berbanding lurus dengan aktivitas saya di komunitas kepenulisan online. Pada akhirnya, saya kembali merasa gagal.

Ternyata untuk bertahan saat mengikuti komunitas online itu butuh perjuangan. Salut saya untuk mereka yang berhasil. Apalagi seperti ibu rumah tangga yang aktif sekali di blognya dan dapat juga mengurus rumah tangganya. Dua jempol untuk mereka.

Berjuang online di komunitas kepenulisan bagi saya itu sulit sekali. Karena komitmen yang dibangun berbeda dengan aktivitas di dunia nyata. Dan berbeda dengan menulis diari. Saya setiap hari terus menuli di buku khusus yang tidak boleh dilihat oleh siapa pun. Rahasia pokoknya. Berbeda dengan tulisan yang harus saya kirim dan sebar kebanyak orang because my digital footprint will be there forever. Dosa pun pahalan yang mengalir karena tulisan saya akan terus ada walaupun jasad ini telah tiada.

Saya salut dengan mereka, seperti ibu rumah tangga yang mampu mengurus blognya dengan apik sampai ada yang mau beriklan di blognya atau meminta untuk dibuatkan copy writing/soft selling dan semacamnya. Mereka keren. Mampu membagi waktu secara baik antara aktivitas online dan offlinenya.

Well, manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Dan prioritas yang berbeda pula. Dengan semangat yang juga berbeda. Sehingga, saya tidak bisa menyamakan diri saya dengan mereka. Pun sebaliknya. Sayangnya, terkadang ada diantara kita yang merasa karena bisa maka yang lain juga pasti bisa.

Saya perlu berjuang ekstra keras dengan hal-hal online. Namun, ada orang-orang yang dengan mudah dapat melakukannya. We all have different struggles in life, don't compare yours with mine.

2 Jumadil Akhir 1439 H

Page 5 of 365

Sunday, February 11, 2018

Menata Langkah

February 11, 2018 0
Menata Langkah

Banyak impian yang ingin dicapai. Deretan resolusi telah membubuhi agenda tahunan. Lalu, apa yang kemudian terjadi? Evaluasi.

Satu bulan lebih berlalu dari tahun 2018. Pekan ini saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Merampungkan beberapa amanah yang sudah mendekati tenggat waktunya dan menangguhkan beberapa untuk dapat disesuaikan. Kemudian, menelaah apa-apa yang telah saya lakukan. Apakah semakin mendekatkan diri pada tujuan? Atau malah saya sudah sangat jauh sehingga perlu ditarik kembali agar tidak salah arah.

Awalnya saya ragu untuk melakukannya. Mengingat akan ada yang dikorbankan dari aktivitas ‘berhenti sejenak’ ini. Alhamdulillah, memang terkadang kita perlu untuk sekedar berhenti. Melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang sedang terjadi dan mereka-reka apa yang akan terjadi kemudian. Untuk sekedar tahu posisi kita sudah sampai mana.

Hal tersulit dari memberi ruang pada diri untuk dapat memperbaiki diri adalah pengakuan. Pengakuan atas segala kesalahan, kekurangan, pencapaian-pencapaian yang jauh dari harapan. Namun, itulah inti dari berhenti sejenak ini. Agar kemudian dapat menata langkah menjadi lebih baik lagi.

Bersyukur sekali saya dapat menghadiri Blogger Muslimah Meet Up kemarin. Dengan narasumber Teteh Khadija atau lebih dikenal dengan Peggy Melati Sukma, saya kembali diingatkan dengan makna hijrah. Bahwasanya diri inilah hijrah itu sendiri. Bahwa hijrah tidak hanya sebatas satu momen perpindahan. Melainkan perjalanan sepanjang hayat untuk mencapai ridhoNya. (Insyaallah saya akan membuat reportasenya dan satu tulisan khusus mengenai apa yang dibicarakan narasumber).

Hibernasi singkat ini memberikan saya kekuatan untuk meneruskan langkah. Salah itu wajar. Manusia. Namun, itu bukan alasan untuk tidak berkembang dan berhenti berjuang.

Bismillah....

Note: Terkadang dalam menghadapi suatu situasi dalam hidup hanya seperti ini langkah saya mengutarakannya. Berdamai dan mengobati dengan merangkai aksara yang semoga dapat berarti dikemudian hari. Siapa pun yang membaca ini mungkin tidak dapat memahaminya. Karena terkadang, saat luka saya tidak mampu merangkai kata dengan sempurna. Namun, menuliskannya seperti ini adalah jalan untuk menyembuhkannya.


25 Jumadil Awwal 1439 H

Page 4 of 365